Contoh Laporan Keuangan dan Cara Membuatnya

contoh laporan keuangan

Contoh Laporan Keuangan – Laporan Keuangan adalah laporan yang dibuat untuk melaporkan laba (rugi), perubahan modal, posisi keuangan dan arus kas selama periode tertentu. Misalnya bulanan , triwulan, semester (6 bulanan) atau tahunan.

Tujuan Laporan Keuangan adalah untuk memberikan laporan aktivitas perusahaan selama periode tertentu kepada pemilik modal, calon investor, dan pemerintah.

Fungsi Laporan Keuangan adalah untuk mengetahui kinerja perusahaan selama satu periode, dan sebagai dasar untuk menentukan arah dan strategi perusahaan di masa depan.

Ada 4  (empat) jenis Laporan Keuangan yang dibuat perusahaan, yaitu:

#1. Laporan Laba Rugi

Laporan keuangan yang menunjukkan performance/kinerja perusahaan. Laporan ini terdiri dari pendapatan atau penerimaan perusahaan dan beban/biaya yang dikeluarkan untuk membiayai operasi perusahaan.

#2. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Laporan keuangan yang menyajikan jumlah aset, utang, dan modal perusahaan.

#3. Laporan Perubahan Modal

Laporan keuangan yang menunjukkan perubahan modal yang terjadi selama periode tertentu.

#4. Laporan Arus Kas

Laporan keuangan yang menunjukkan perputaran arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

 

Contoh Laporan Keuangan

Berikut ini saya sajikan contoh laporan keuangan yang sudah di-audit dari 3 (tiga) jenis perusahaan, yaitu perusahaa jasa, dagang, dan manufaktur:

1. Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Jasa

Berikut kami sajikan contoh laporan keuangan perusahaan jasa dari PT Adhi Karya (Persero) Tbk per 31 Desember 2016. Perusahaan ini memulai usaha komersialnya pada tanggal 11 Maret 1960.

Aktivitas utama perusahaan ini dalam bidang konstruksi, EPC, properti, real estat, investasi infrastruktur, penyelenggaraan prasarana dan sarana perkeretaapian, jasa pengadaan barang dan hotel.

Jumlah aset yang disajikan di Laporan Posisi Keuangan per 31 Desember 2016 sebesar Rp 20.095.435.959.279, jumlah liabilitas Rp 14.652.655.996.381, dan jumlah ekuitas Rp 5.442.779.962.898.

Laba periode berjalan tahun 2016 sebesar Rp 315.107.783.136, dan jumlah kas dan setara kas pada akhir tahun sebesar Rp 3.364.910.489.288.

Contoh Laporan Keuangan lengkap dapat di-download di LKT PT Adhi Karya – 2016

 

2. Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Contoh laporan keuangan perusahaan dagang yang sudah di-audit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang akan saya sajikan adalah Laporan Keuangan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk per 31 Desember 2016.

Perusahaan ini mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1996 dan bergerak dalam bidang investasi, perdagangan umum, keagenan dan perwakilan.

Jumlah Aset yang disajikan di Laporan Posisi Keuangan per 31 Desember 2016 sebesar Rp 8.335.065.215.434, total Liabilitas Rp 105.688.495.804, dan total ekuitas Rp 8.229.376.719.630

Laba tahun berjalan tahun 2016 sebesar Rp 398.072.946.858, sedangkan Kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 62.985.539.467

Selengkapnya dapat download di Laporan Keuangan Tahunan PT Indoritel – 2016

 

3. Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur/industri

Untuk contoh laporan keuangan perusahaan manufaktur, kami sajikan Laporan Keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk per 31 Desember 2016.

Perusahaan yang berpusat di Cilegon, Banten ini memulai operasi komersialnya pada tahun 1971, dengan ruang lingkup aktivitas perusahaan meliputi industri baja, perdagangan, jasa, dan aktivitas penunjang seperti pergudangan, properti, dan TI.

Dari Laporan Posisi Keuangan (Neraca) per 31 Desember 2016, kita dapat mengetahui jumlah aset perusahaan sebesar 3.936.713, total liabiltas 2.097.036, dan total ekuitas 1.839.677 (dalam ribuan dollar Amerika Serikat).

Dari Laporan Laba Rugi tahun 2016 periode total Rugi sebesar 180.724 (dalam ribuan dollar AS), sedangkan jumlah Kas dan setara akhir tahun 2016 sebesar Rp 264.954 (dalam ribuan dollar AS).

Selengkapnya dapat di-download di Laporan Keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk – 2016

 

Cara Membuat Laporan Keuangan

Sebelumnya kita sudah mengetahui bentuk Laporan Keuangan, dari 3 (tiga) contoh laporan keuangan perusahaan Tbk yang sudah diaudit yang telah disajikan di atas.

Kini saatnya untuk belajar membuat laporan keuangan, bagaimana caranya? Langsung saja kita mulai ya…

Sebagaimana sudah disinggung di awal artikel ini bahwa ada 4 jenis laporan keuangan, yaitu:1) Laporan Laba Rugi, 2) Laporan Posisi Keuangan (Neraca), 3) Laporan Perubahan Modal, dan 4) Laporan Arus Kas.

Untuk memudahkan dalam memahami cara membuat setiap jenis laporan keuangan, maka saya akan membahas tiap jenis laporan keuangan.

1. Laporan Laba Rugi

Untuk membuat Laporan Laba Rugi paling tidak kita harus mengetahui bentuk/format dan elemen-elemen yang menyusun Laporan Laba Rugi.

Format Laporan Laba Rugi bila diilustrasikan dengan sebuah gambar adalah seperti berikut:

format-laporan-laba-rugi

Berdasarkan pada format di atas,  ada 4 elemen dalam Laporan Laba Rugi, yaitu:

Pendapatan

Pendapatan merupakan penerimaan yang berasal dari penjualan barang atau jasa. Harga pokok penjualan adalah biaya pembelian bahan pokok, bahan pembantu, alat, mesin dan tenaga kerja langsung untuk menghasilkan barang jadi.

Ataupun merupakan biaya perolehan barang yang akan dijual kembali oleh perusahaan.

Pendapatan (biaya) Lain-lain

  • Laba selisih kurs
  • Laba penjualan aset

 

Harga Pokok Penjualan (HPP)

Cara untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) adalah sebagai berikut:

cara menghitung HPP

 

Biaya-biaya

Biaya-biaya adalah semua pengeluaran perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan dalam periode tertentu.

Contoh biaya penjualan
  • Biaya gaji bagian penjualan
  • Biaya iklan
  • Biaya promosi
  • Biaya perlengkapan bagian penjualan
  • Biaya pajak reklame
  • Biaya transportasi
  • Biaya perawatan aset tetap bagian penjualan
  • Biaya penyusutan gedung
  • Biaya penyusutan kendaraan
  • Biaya penyusutan peralatan bagian penjualan
  • Biaya kendaraan bagian penjualan
  • Biaya pelatihan marketing
  • Biaya sumbangan
  • Biaya listrik
  • Biaya air
  • Biaya telepon
  • Biaya entertainmen
  • Biaya langganan surat kabar
  • Biaya lain-lain
Biaya umum dan administrasi
  • Biaya gaji bagian kantor
  • Biaya transportasi bagian umum
  • Biaya kendaraan bagian umum
  • Biaya pelatihan
  • Biaya perlengkapan kantor
  • Biaya langganan surat kabar
  • Biaya listrik
  • Biaya air
  • Biaya telepon
  • Biaya sumbangan
  • Biaya entertainmen
  • Biaya penyusutan gedung
  • Biaya penyusutan kendaraan
  • Biaya penyusutan peralatan kantor
  • Biaya perawatan aset tetap
  • Biaya administrasi bank
  • Biaya profesional fees
  • Biaya iuran keanggotaan
  • Biaya rupa-rupa
Biaya Lain-lain
  • Biaya bunga bank
  • Jasa giro
  • Bunga deposito
  • Rugi selisih kurs
  • Rugi penjualan aset

 

Pajak

Sedangkan pajak adalah pungutan yang ditetapkan pemerintah untuk membiayai pembangunan.

Setelah kita mengetahui format dan elemen-elemen laporan laba rugi, langkah selanjutnya adalah menganalisis, dan menggolong-golongkan transaksi sesuai dengan elemen-elemen dalam Laporan laba Rugi. Untuk memudahkan, setiap elemen biasanya dibuat akun atau nomor rekening.

Misalnya transaksi penjualan, berarti dimasukkan ke dalam elemen pendapatan lalu jumlahkan selama satu periode akuntansi. Demikian juga dengan elemen-elemen yang lain.

Di akhir periode akuntansi semua elemen dijumlahkan, maka akan ketemu saldo akhir tiap elemen.

Selanjutnya tinggal masukkan saja saldo-saldo tersebut sesuai format laporan laba rugi, maka jadilah satu Laporan Laba Rugi. Sederhananya seperti itu.

Namun seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan perusahaan, maka transaksi keuangannya juga semakin banyak, sehingga memerlukan tools atau alat bantu untuk menggolong-golongkan dan menghitung nilai transaksi. Misalnya dengan Excel atau accounting software.

Untuk melengkapi laporan laba rugi, berikut saya sajikan contoh format standar laporan laba rugi sebagai berikut:

Format standar laporan laba rugi

 

2. Laporan Perubahan Modal

Laporan Perubahan Modal atau Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menunjukkan perubahan ekuitas/modal perusahaan yang menggambarkan peningkatan atau penurunan aset netto atau kekayaan bersih selama periode pelaporan.

Untuk membuat laporan perubahan modal kita harus tahu komponen dan format laporan perubahan modal.

Komponen Laporan Perubahan Modal adalah:

  • Total laba rugi selama suatu periode.
  • Pos pendapatan lain
  • Transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik yang menunjukkan secara terpisah: kontribusi dari pemilik, distribus kepada pemilik, dan perubahan hak kepemilikan.

Dan berikut ini contoh format laporan perubahan modal:

format standar laporan perubahan ekuitas

 

3. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Laporan posisi keuangan adalah laporan yang menunjukkan posisi keuangan; aset, liabilitas, dan ekuitas dari perusahaan pada tanggal tertentu.

Dari definisi di atas, kita sudah tahu komponen laporan posisi keuangan yaitu:

  • Aset: Kas dan setara kas, piutang, persediaan, fixed asset
  • Liabiltas: utang usaha
  • Ekuitas: modal, saldo laba

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

format standar neraca

Untuk melengkapi pembahasan, berikut ini saya sajikan contoh format laporan posisi keuangan (neraca):

Format Standar Neraca

 

4. Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas adalah laporan yang menyajikan aliran kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Jadi ada 3 (tiga) elemen laporan arus kas.

bentuk laporan arus kas

Sedangkan format laporan arus kas dapat dilihat dalam ilustrasi berikut:

format standar laporan arus kas

Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa alur pembuatan laporan keuangan dapat digambarkan dengan diagram alir (flowchart) berikut ini:

flowchart membuat laporan keuangan

Untuk membuat laporan keuangan dimulai dari bukti transaksi, kemudian dianalisis dan diklasifikasikan sesuai dengan jenis transaksi; aset, kewajiban, modal, pendapatan, dan biaya.

Selengkapnya dapat dipelajari di artikel Siklus Akuntansi – Menganalisis dan Mencatat Transaksi ke Jurnal Akuntansi.

Untuk memudahkan dalam pengklasifikasian/penggolongan maka dibuat akun atau nomor rekening, misalnya digit pertama angka 1 (satu)  untuk Aset, 2 (dua) untuk Kewajiban, 3 (tiga) untuk Modal, 4 (empat) untuk Pendapatan, dan 5 (lima) untuk Biaya.

Tahap kedua adalah mencatat hasil analisis dan penggolongan transaksi ke dalam jurnal. Setelah semua transaksi di catat ke jurnal selanjutnya dipindahkan (posting) ke buku besar.

Langkah terakhir adalah memindahkan semua saldo akun ke Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, Laporan Arus Kas.

Dan berikut ada video pendek yang cukup menarik untuk membuat Laporan Keuangan sederhana dengan Excel (bisa untuk menambah wawasan dan latihan).

 

Analisis Laporan Keuangan

Setelah membuat Laporan Keuangan Lengkap, selanjutnya kita akan melakukan analisa laporan keuangan.

Kenapa Laporan Keuangan perlu dianalisa?

Salah satu tujuan pembuatan Laporan Keuangan adalah untuk mengetahui kondisi usaha selama suatu periode pelaporan untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan strategi bisnis di masa depan.

Agar Laporan Keuangan itu dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan, maka harus dianalisis dengan menggunakan rasio keuangan.

Agar manfaat rasio keuangan ini benar-benar terasa manfaatnya, perhatikan contoh Laporan Laba Rugi beserta analisa rasio keuangan berikut ini:

contoh laporan laba rugi

Dari Laporan Laba Rugi atas, kita bisa melakukan analisa rasio keuangan berikut ini:

1. Gross Profit Margin

Rumus untuk menghitung Gross Profit Margin adalah:

= (Penjualan – Harga Pokok Penjualan) : Penjualan

= (9.814.840.000 – 8.146.317.000) : 9.814.840.000 X 100% = 44,13%

Rasio ini menggambarkan bahwa setiap rupiah penjualan menghasilkan laba bruto sebesar Rp 44,13.

 

2. Operating Income Ratio

Formula untuk mengetahui operating income ratio adalah:

= Laba Atas Operasi : Penjualan Neto

= 588.891.000 : 9.814.840.000 = 0,06

Rasio ini menggambarkan bahwa setiap rupiah penjualan menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,06

 

3. Operating Ratio

Untuk menghitung operating ratio kita dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

= (Harga Pokok Penjualan + Beban Operasi) : Penjualan Neto

= (8.146.317.000 + 1.079.632.000) : 9.814.840.000 = 0,93

Rasio ini menggambarkan bahwa setiap rupiah penjualan mempunyai biaya operasi sebesar Rp 0,93

 

4. Return on Investment (ROI)

Misalnya total aset = Rp 748.495.000

Nilai Return on Investment (ROI) dihitung dengan rumus sebagai berikut:

= (Laba Neto : Total Aset) x 100%

= ( 113.062.000 : 748.495.000 ) x 100% = 15,10%

Rasio ini menggambarkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Bagi perusahaan pada umumnya masalah rentabilitas adalah lebih penting daripada masalah laba, karena laba yang besar belum merupakan ukuran bahwa perusahaan telah bekerja dengan efisien.

Efisiensi baru diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.

Yang harus diperhatikan bagi perusahaan adalah tidak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar laba, tapi yang lebih penting bagaimana mempertinggi rentabilitas tersebut.

 

5. Ratio Operating Income dengan Operating Assets

Misalnya Average Operating Assets perusahaan sebesar Rp 3.523.161.000, maka ratio operating income dengan operating assets dapat dihitung sebagai berikut:

= (Operating Income : Average Operating Assets) x 100%

= (588.891.000 : 3.523.161.000) x 100% = 16,71%

Rasio ini menunjukkan laba yang diperoleh dari aktivitas perusahaan dengan menggunakan aset perusahaan. Rasio yang rendah menggambarkan adanya:

  1. Over investment dari aset yang digunakan untuk operasi.
  2. Rendahnya volume penjualan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.

 

6. Operating Assets Turn Over (OATO)

Operating Assets Turn Over dapat diketahui nilainya dengan menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut:

= Return On Investment : Profit Margin

= 15,10% : 1,16% = 13,02 kali

Rasio ini digunakan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat kecepatan perputaran operating assets dalam periode tertentu.

 

7. Earning Power of Total Investment (Rate of Return on Total Assets)

Earnign Power of Total Investment dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini:

= EBIT : Total Aset

= 150.750.000 : 748.495.000 = 0,20

Rasio ini menggambarkan bahwa setiap satu rupiah modal menghasilkan keuntungan Rp 0,20 untuk semua pemegang saham.

Dari hasil penghitungan rasio keuangan di atas, kita dapat melakukan analisis sebagai berikut:

Analisis #1:

Penjualan neto mengalami kenaikan sebesar Rp 383.160.000 atau 3,90% tapi laba atas operasi mengalami penurunan sebesar Rp 71.328.000 atau 12,11%.

Hal ini disebabkan karena meningkatnya beban operasi (beban penjualan, beban umum dan administrasi).

Kenaikan penjualan neto mungkin disebabkan aktivitas bagian penjualan yang lebih efektif, diperolahnya daerah penjualan yang baru, kenaikan tingkat harga dan sebab-sebab lainnya.

Analisis #2.

Pada bulan Agustus 2018: 82,99% dari penjualan merupakan harga pokok dari barang yang dijual.

Analisis #3.

Biaya penjualan pada Agustus 2018 sebesar 5%.

Untuk melengkapi pembahasan tentang rasio keuangan, berikut saya sajikan video pendek yang menjelaskan rasio keuangan:

Demikian pembahasan tentang contoh-contoh Laporan Keuangan Perusahan Tbk yang sudah diaudit, step by step pembahasan tentang cara membuat laporan keuangan, dan analisis laporan keuangan dengan menggunakan rasio keuangan, serta penjelasan hasil analisa laporan keuangan.

***

Related Post

Tentang Admin
I’m full blogger from Indonesia, and have been blogging since 2014. My skills are Finance and Accounting. My blog called SiklusAkuntansi to help people find the best finance and accounting reference.